MANADO, SpiritKawanua.com – Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengalami deflasi 1,05 persen pada Juli 2026. Angka ini turun dibanding Juni 2026 yang sebelumnya inflasi 2,12 persen.
Data tersebut dirilis BPS Sulut, Senin (3/8/2026). Data itu menunjukkan tingkat inflasi pada Juli 2026 lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, atau terjadi penurunan angka inflasi dari bulan Juni kemarin 2,12 persen menjadi -1,05 persen di Juli.
Adapun komoditas Penyumbang Inflasi:
1. Biaya akademi/perguruan tinggi: 0,14%
2. Beras: 0,11%
3. Ikan malalugis: 0,08%
4. Daun bawang: 0,07%
5. Bawang putih: 0,03%
Kenaikan biaya kuliah dipengaruhi awal tahun ajaran baru dan meningkatnya biaya operasional UKT.
Sementara harga beras naik karena pasokan terbatas, daerah sentra belum panen, ditambah serangan hama tikus di Bolaang Mongondow Raya.
Komoditas Penahan Inflasi / Turun Harga:
1. Cabai rawit: -0,90%
2. Bawang merah: -0,33%
3. Tomat: -0,24%
4. Angkutan udara: -0,12%
5. Cabai merah: -0,10%
Penurunan harga cabai rawit dan tomat karena pasokan meningkat seiring musim panen. Cabai rawit dipasok dari Gorontalo, Minahasa, dan Bolaang Mongondow Raya, sedangkan tomat dipasok dari Minahasa dan Minahasa Selatan.
Untuk bawang merah, harga turun karena pasokan dari Bima dan Makassar bertambah. Meningkatnya stok dari distributor membuat ketersediaan di pasar lebih banyak sehingga menekan harga.
(RTG)


















