MANADO, SpiritKawanua.com – Inflasi Provinsi Sulawesi Utara meledak pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut mencatat inflasi bulanan (month to month) mencapai 3,53% dibanding Agustus 2026.
Biang keroknya: harga cabai rawit yang sempat tembus Rp200 ribu per kilogram.
Kepala BPS Sulut, Watekhi, mengatakan andil inflasi cabai rawit saja mencapai 1,84%, jauh meninggalkan komoditas lain seperti tomat (0,26%) dan cabai merah (0,15%).
“Secara kelompok pengeluaran, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mengalami inflasi paling tinggi yakni 9,85 persen dan memberi andil inflasi keseluruhan 3,29 persen,” kata Watekhi.
Kelompok lain yang ikut terkerek yakni Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya 1,17% serta Rekreasi, Olahraga, dan Budaya 1,01%.
Menurut Watekhi, komoditas yang mengalami deflasi tidak mampu menahan laju inflasi karena nilainya sangat kecil. Penahan inflasi terdalam hanya angkutan udara -0,03%, lalu bawang merah dan minyak goreng -0,02%.
Inflasi Tahunan Jebol Target Nasional
Lonjakan September mendorong inflasi tahunan (year to date) Sulut melonjak hingga 7,35%. Angka ini jebol jauh di atas target nasional 2,5% ±1% atau rentang 1,5% hingga 3,5%.
Sementara inflasi year on year (yoy) hingga September 2026 mencapai 7,59%.
Penyumbang terbesar inflasi tahunan masih dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 16,06% dengan andil 5,29%, disusul Perawatan Pribadi 8,56% (andil 0,55%) dan Transportasi 7,01% (andil 0,85%).
(RTG)


















