MANADO, SpiritKawanua.com – Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara menggelar Sinergi Pasar Murah di Gedung BI Lama, Pinaesaan, Pasar 45 Manado, Selasa (21/7/2026).
Kegiatan ini jadi respons atas lonjakan inflasi pangan di Sulut yang mencapai 14% pada Juni 2026 untuk komoditas volatile food.
Harga yang dijual di bawah pasaran:
– Beras SPHP: Rp58.000 / 5 kg
– Minyak goreng: Rp19.000 / liter
– Gula pasir:Rp14.500 / kg
– Telur ayam: Rp53.000 / bak
– Ayam potong: Rp32.000 / ekor
– Cabai rawit lokal: Rp40.000 / kg
– Cabai rawit luar: Rp35.000 / kg
– Tomat: Rp5.000
Warga juga dapat voucher potongan Rp5.000 per item dengan scan QRIS senilai Rp73.
Kepala Perwakilan BI Sulut Joko Supratikto mengatakan pasar murah ini langkah jangka pendek pengendalian harga. “Inflasi Sulut Juni 2026 tercatat 2,12% mtm dan 4,48% ytd. Jauh di atas target ±2,5%. Penyumbang terbesar dari pangan bergejolak seperti cabai, tomat, bawang dan beras,” ujarnya.
Menurut BI, kenaikan harga dipicu pasokan terganggu akibat banjir di Gorontalo dan produksi lokal yang belum mampu penuhi kebutuhan.
“Pengendalian inflasi tidak bisa parsial. Butuh orkestrasi kebijakan, dorong produktivitas petani, dan kerja sama antar daerah berbasis bisnis to bisnis agar berkelanjutan,” tegas Joko.
Selain jual murah, BI juga mengedukasi transaksi digital dan membuka layanan Kas Keliling penukaran uang.
Gubernur Sulut yang diwakili Asisten II Jemmy Ringkuangan mengapresiasi inisiatif ini. “Sangat membantu di tengah gejolak harga saat ini,” katanya.
Hadir juga Kadis Pangan Sulut Rahel Rotinsulu, Kepala Bulog Sulutgo Ermin Tora, Kepala BPS Sulut Watekhi, dan Satgas Pangan.
(RTG)


















