banner 728x250

Hitung dan Catatlah Segenap Umat

Pdt Stenly J Sela MTh
banner 120x600
banner 468x60

Catatan Renungan Pdt Stenly J. Sela MTh.

MANADO, SpiritKawanua.com – Tema Menjabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat (MTPJ) GMIM minggu berjalan ini adalah Hitung dan Catatlah Segenap Umat. Firman Tuhan yang jadi perenungan terdapat dalam Bilangan 1 : 1 – 54.

banner 325x300

Berhadapan dengan Kitab Bilangan barangkali akan membawa kita pada rasa bosan. Sesuai namanya, kitab ini memang berisi banyak angka, juga nama yang agaknya sulit dieja. Tetapi dalam Kitab Suci Ibrani, Kitab Bilangan disebut bamidbar yang berarti “Di Padang Gurun.” Judul ini berasal dari baris pertama kitab yang mengatakan, “TUHAN berfirman kepada Musa di padang gurun Sinai” (Bilangan 1:1). “Di Padang Gurun” adalah judul yang lebih tepat karena kitab ini menggambarkan perjalanan Israel di padang gurun dari Gunung Sinai ke tepi Tanah Perjanjian. Jadi, sebenarnya bukan sekedar menyebut atau menghafal angka dan nama tetapi mengurai kedalaman peristiwa kembara Israel di padang gurun.

Dalam pasal pembuka ini, Tuhan memerintahkan Musa untuk melakukan sensus terhadap semua keluarga Bani Israel. Ia diperintahkan untuk menghitung semua laki-laki berdasarkan garis keturunan suku mereka. Tujuan utama sensus ini adalah untuk menentukan siapa yang memenuhi syarat untuk dinas militer.

Namun, dengan menyebutkan setiap keluarga secara individual, daftar sensus tersebut menyoroti fakta bahwa setiap individu penting bagi pelayanan Tuhan. Rincian sensus bahkan menyebutkan anggota keluarga mana yang akan memimpin setiap suku dalam pertempuran, dan menentukan di mana mereka harus mendirikan tenda ketika mereka berada di perkemahan. Kecuali satu suku, yakni suku Lewi, tidak termasuk dalam hitungan untuk dinas militer karena mereka dikhususkan untuk menjadi pengurus Kemah Pertemuan. Tugas mereka meliputi mendirikan dan membongkar Kemah Pertemuan setiap kali perkemahan dipindahkan, dan merawat semua barang yang digunakan dalam ibadah. Tugas ini tidak boleh dianggap enteng. Hanya orang Lewi yang dikuduskan untuk pelayanan khusus ini. Akhirnya, penulis Bilangan di akhir perikop ini memberi penegasan bahwa Musa melakukan dengan taat apa yang diperintahkan Tuhan baginya dan segenap Israel.

Apa makna baian firman ini untuk kita?

Pertama, pikirkanlah implikasi dari sensus! Melakukan sensus bukan hanya penghitungan penduduk tetapi juga tindakan politik di mana seorang penguasa membatasi dan mengklaim hak atas orang-orang yang dihitung. Perintah Allah menunjukkan bahwa Allah adalah raja dan ini adalah umat pilihan-Nya. Kesimpulan pentingnya adalah: “kamu dihitung dan kamu milik Allah.” Pencatatan dan penghitungan segenap umat Israel adalah klaim tak terbantahkan dari inisiatif Allah untuk menjadikan bangsa itu benar-benar milik-Nya, sesuai jumlah yang real. Dan ini adalah sebuah tindakan yang tidak berhenti pada upaya mengklaim milik dan kepunyaan, tetapi lebih jauh dari itu, sebagai pengingat tentang otoritas Allah dan jaminan yang disediakanNya bagi kepunyaanNya itu.

Logikanya, jika Allah mau mengakui Isarael sebagai kepunyaan-Nya itu berarti Dia akan menjaga, memelihara dan menjamin keberlangsungan hidup mereka. Sama seperti kita manusia, sesuatu yang kita kaim sebagai milik pasti dipertahankan dengan segala cara. Itulah pesan tersembunyi di balik perintah mencatat dan menghitung segenap umat Israel. Kita pun demikian! Kita adalah kepunyaan-Nya, dan Ia pasti melakukan yang terbaik untuk kita.

Kedua, sensus bukan hanya sekedar angka atau permainan matematis semata. Ada tujuan yang hendak dicapai melalui aktivitas ini, yaitu keteraturan. Muaranya adalah supaya setiap orang mendapat perhatian, supaya tugas dibagi secara tepat dan supaya umat siap menjalankan misi Tuhan. Allah meneladankan ketertiban dan keteraturan untuk kita. Dalam setiap hal, demi penyelenggaraan hidup yang mendatangkan kebaikan, kita perlu memberi diri diatur dan ditata, kita perlu memiliki ketundukan terhadap nilai-nilai yang menertibkan supaya semua yang di sekitar kita berjalan lancar dan terkendali.

Ketiga, penghitungan dan pencatatan segenap umat mengingatkan kita bahwa setiap jiwa penting di hadapan Tuhan, dan karena itu tidak boleh ada yang hilang atau sekedar dikesampingkan. Keempat, sebagai poin terakhir, bacaan ini sekali lagi memperlihatkan kepada kita tentang pentingnya ketaatan terhadap perintah Tuhan. Perintah Tuhan adalah kemutlakan, tidak bisa ditawar, tidak bisa dalam konsep suka atau tidak suka. Harus! Itulah yang semestinya menjiwai perjalanan kekristenan kita: harus taat kepada perintah Tuhan, bersedia melakukan apa yang Tuhan mau, sebab kesediaan kita untuk taat merupakan cerminan iman yang hidup di dalam Tuhan. Jadi, tetaplah taat jika kita tidak mau disebut Kristen asal-asalan.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *