banner 728x250

Jelang Idul Adha, TPID Boltim Genjot Strategi Jaga Stabilitas Harga Pangan

banner 120x600
banner 468x60

BOLTIM, SpiritKawanua.com – Tim Pengendalian Inflasi Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur menggelar High Level Meeting untuk memperkuat strategi pengendalian harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional Idul Adha 2026.

Langkah ini diambil setelah harga sejumlah komoditas pangan di Boltim menunjukkan pola kenaikan menjelang hari besar keagamaan.

banner 325x300

Berdasarkan data pemantauan harga, harga beras di Boltim pada minggu kedua Mei 2026 naik 0,93% menurut BPS. Pola serupa juga terjadi pada daging ayam ras dan cabai rawit yang biasanya mengalami peningkatan harga menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2025-2026.

“Hal ini perlu kita antisipasi bersama menjelang HBKN Idul Adha 2026,” disampaikan Joko Supratikto, Kepala Kantor Peraakiwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara dalam rapat TPID Boltim.

Secara regional, Provinsi Sulawesi Utara pada April 2026 mengalami inflasi 0,96% secara month-to-month. Kenaikan harga utama didorong oleh tomat seiring berakhirnya masa panen raya, serta angkutan udara akibat kenaikan harga avtur. Sementara daun bawang menjadi penahan inflasi berkat panen di Minahasa Selatan dan Tomohon.

Fokus pada 4K dan Gerakan Pangan Murah
Untuk menahan laju inflasi, TPID Boltim menjalankan strategi 4K: Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

Program Gerakan Pangan Murah akan digencarkan kembali, khususnya menjelang Idul Adha. Intervensi difokuskan pada komoditas yang memerlukan penanganan, dengan prinsip 3 Tepat: tepat waktu pada periode potensi kenaikan harga, tepat lokasi di pasar referensi PIHPS dan wilayah padat penduduk, serta tepat sasaran pada komoditas yang perlu intervensi.

Sidak pasar tradisional dan modern juga akan terus dilakukan bersama Satgas Pangan dan Aparat Penegak Hukum untuk memantau potensi penimbunan dan gangguan distribusi.

Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Hilirisasi
TPID juga mendorong penguatan ketahanan pangan melalui transformasi GNPIP menjadi GPIPS atau Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera. Program ini diarahkan memperkuat hilirisasi pangan melalui penguatan kapasitas produksi, pemerataan distribusi antarwilayah, dan optimalisasi rantai pasok.

Boltim sendiri memiliki potensi sebagai sentra produksi cabai rawit Sulut. Data menunjukkan rata-rata produksi cabai rawit Boltim mencapai 117,41 ton per tahun, jauh di atas kebutuhan 51,49 ton. Namun harga bawang merah di Boltim masih lebih tinggi dibanding wilayah Bolmong Raya lain sejak Januari 2025, sehingga efisiensi rantai pasok perlu diperbaiki.

Penguatan peran BUMD sebagai offtaker, distributor, dan penggerak industri pengolahan juga didorong untuk menyerap hasil petani, memperkuat jaringan distribusi, dan meningkatkan nilai tambah produk.

TPID Boltim mengajak masyarakat untuk bijak berbelanja dan menghentikan pemborosan pangan sebagai bagian dari menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.

(RTG)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *