Oleh Pdt Maria Liud STeol MA
Pendeta Pelayan Jemaat GMIM Pinaesaan GPI
MANADO, SpiritKawanua.com – Saudara-Saudara yang terkasih di dalam Yesus Kristus, bersyukur kepada Tuhan untuk anugerah yang diberikan kepada kita semua. Ada banyak hal yang sudah terjadi di sepanjang Februari dan Puji Tuhan dalam tuntunan kasih-Nya telah menghantarkan kita di Maret 2026 dan sudah memasuki Perayaan Minggu Sengsara Yesus yang kedua.
Firman Tuhan saat ini berbicara tentang Nabi Yeremia yang dipanggil dan diutus Tuhan Allah untuk menyampaikan nubuat bagi umat Yehuda. Dalam pasal 18 secara khusus ditulis pada zaman pemerintahan raja Yoyakim di Kerajaan Yehuda, sekitar abad ke 7- SM. Di usia 25 tahun Yoyakim menjadi raja dan selama 11 tahun ia memerintah di Yerusalem.
Yoyakim melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Kejahatan yang dilakukan oleh Yoyakim adalah:
1. Menunjukkan sikap menghina kepada Yeremia dan Firman Allah dengan menyobek-nyobek kitab gulungan itu dengan pisau lalu melemparkannya ke dalam api (Yer.36:22-23).
2. Adanya ketidakadilan sosial. Yoyakim menggunakan kekuasaannya untuk memeras rakyat demi kepentingan pribadi.
3. Praktek pe yembahan berhala dan menolah untuk bertobat dan hidup dalam ketidaksetiaan.
4. Ia menumpahkan banyak darah orang yang tidak bersalah di Yerusalem dan membuat Tuhan tidak mengampuninya.
5. Mencoba membunuh atau menangkap para nabi yang menyampaikan pesan Tuhan
Dari kejahatan itulah Yoyakim sebagai raja, pemimpin membuat bangsa bertindak untuk tidak mau bertobat tetapi mereka berkelakuan hanya mengikuti kehendak sendiri (18:12). Karena itu Tuhan menyuruh nabi Yeremia dalam firman-Nya untuk pergi ke rumah tukang periuk yang sementara bekerja dalam pelarikan dan disanalah Tuhan akan memperdengarkan perkaataan-Nya kepada Yeremia. (18:1-3)
Saudara yang terkasih di dalam Yesus Kristus, ada 2 gambaran yang disampaikan dalam Firman Tuhan dengan sebuah ungkapan perumpamaan. Pertama Tukang Periuk dan kedua tanah liat. Yang pertama siapakah tukang periuk itu?
Tukang periuk digambarkan kepada Tuhan itu sendiri. Tukang periuk yang sedang bekerja membuat bejana yang dari tanah liat.
Yang kedua siapakah tanah liat itu ? Kitalah umat-Nya yang adalah tanah liat. Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel ( 18:6).
Mengapa digambarkan kita sebagai tanah liat di tangan tukang periuk ? Hal ini menjelaskan bahwa jika hidup kita ada di dalam tangan Tuhan yang penuh dengan kasih sayang, ada pertolongan dan penyertaan Tuhan yang selalu terjadi di kehidupan kita. Kita tidak akan pernah takut, kuatir dan gelisah dengan kehidupan ini karena masa depan kita sebagai umat yang percaya kepada Tuhan dan juruselamat ada di dalam tangan-Nya bukan di tangan manusia.
Saudara yang terkasih di dalam Yesus Kristus, tukang periuk tidak akan pernah salah membentuk tanah liat. Apabila pembentukan sebuah bejana itu rusak, maka akan dikerjakan kembali menurut apa yang dipandang baik dalam pemandangannya.
Seperti ilustrasi sebuah guci adalah tempat penyimpanan tradisional berbentuk pot yang lazimnya terbuat dari tanah liat. Dan untuk menghasilkan sebuah guci yg indah maka dikerjakannya pun tidak dengan sembarangan memerlukan ketekunan dan ketelitian bahkan ketrampilan sehingga mampu menghasilkan nilai yang bagus untuk diproduksi.
Dari ilustrasi ini…sebagaiman Allah membentuk kehidupan kita supaya kita akan menjadi orang-orang yang tekun mencari persekutuan, membangun relasi dengan Dia dalam kehidupan kita sehari-hari baik secara pribadi, keluarga dan jemaat. Allah menyediakan pertobatan bagi umat-Nya. Tetapi jika umat tidak bertobat, maka malapetaka atau hukuman diberika kepada kita.
Saudara yang kekasih di dalam Yesus Kristus, seperti tanah liat di tangan tukan periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku. Kiranya tema ini akan menjadikan kita lebih kuat dalam melewati masa kesengsaraan Yesus Kristus. Kita belajar percaya dengan perbuatan dan pertolongan dari Tuhan sekalipun kita mengalami tantangan dan pergumulan dalam hidup ini, sekalipun dunia berubah dengan berbagai perkembangan teknologi tetapi kita tetap setia dan tidak akan meninggalkan Yesus yang telah menyelamatkan kehidupan kita.
Allah membentuk kita tentu berbeda-beda, mungkin saat ini pembentukan Allah kepada hidup kita melalui pergumulan rumah tangga suami-isteri, mungkin dalam keadaan sakit, kita dibentuk melalui karakter rekan sepelayanan yang berbeda atau rekan kerja kita di kantor atau teman sekolah atau siapa saja bahkan perekonomian atau apa saja. Pembentukan itu ibarat kita sedang dalam ujian di sekolah apakah kita akan lulus dalam ujian ataukah kita akan mundur dan menyerah.
Apakah kita akan seperti Yoyakim dan bangsa Yehuda yang tidak mau menerima pertobatan ataukah kita akan tetap semangat menatap ke depan di dalam kasih sayang Tuhan dan akan semakin memuliakan Tuhan.
Bagaimana dengan saudara ? Jadilah tanah liat yang bukan hanya diinjak-injak tetapi menjadi tanah liat yang diberkati Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
















