MANADO, SpiritKawanua.com – Ekonomi Sulawesi Utara mengalami kontraksi 8,02% pada triwulan I-2026 dibanding triwulan sebelumnya (q-to-q). Meski begitu, secara tahunan ekonomi Sulut masih tumbuh 5,54% (y-on-y).
Kepala BPS Sulut Watekhi mengatakan berdasarkan data PDRB, nilai ekonomi Sulut atas dasar harga berlaku triwulan I-2026 mencapai Rp51,67 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp28,05 triliun. “Dari sisi produksi, kontraksi q-to-q paling tertahan oleh lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial yang masih tumbuh 2,83%,” sebut Watekhi.
Sementara dari sisi pengeluaran, komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) mencatat pertumbuhan tertinggi 4,73%, disusul Pengeluaran Konsumsi Pemerintah.
“Kontraksi di triwulan I lazim terjadi karena faktor musiman, karena tingginya aktivitas ekonomi pada akhir tahun sebelumnya,” sebut dia.
Untuk pertumbuhan tahunan, lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum jadi penopang utama dengan tumbuh 20,85%. Dari sisi pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah tumbuh 7,89%.
(RTG)


















